Catatan redaksi– Pemkab Kerinci dan Sungai Penuh terlihat serius menjadikan wilayahnya sebagai salah satu lumbung padi nasional. Di depan panggung Bupati Monadi dan Walikota Alfin kompak berperan sebagai aktor yang ambisius ingin memajukan pertanian khususnya lahan dan produktivitas padi di kawasan.
Kedua tokoh pun menarasikan bahwa Kabupaten/Kota yang dipimpinnya punya lahan luas, subur dan produktif demi mencapai level ketahanan pangan nasional.
Patut diakui, Kerinci menjadi wilayah dengan tingkat produksi padi kering giling tertinggi di Provinsi Jambi, tetapi angka produktivitas itu terus menurun dari tahun ke tahun.
Tercatat, produksi padi di Kabupaten Kerinci pada tahun 2023 mencapai 275,94 ribu ton gabah kering giling (GKG) dari luas panen sekitar 61,24 ribu hektare, menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Tetapi angka itu merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan hasil produksi dua tahun sebelumnya.
Pak Menteri Amran sadar bahwa Kerinci memiliki potensi menjadi lumbung padi karena hanya melihat data yang diperoleh tanpa melakukan tinjau lokasi langsung. Kondisinya barangkali akan terbalik jika Pak menteri diajak keliling ke sejumlah lahan pertanian di sudut-sudut Kabupaten Kerinci.
Permasalahnya, data produksi tak semudah dan tak seindah memanejemen sumber daya untuk menghasilkan hasil tadi. Krisis irigasi menjadi persoalan mengemuka dan tak usai hingga kunjungan pak menteri kemarin. Di tambah lagi musim kemarau yang melanda, membuat ratusan hektar sawah milik petani terancam gagal panen.
Akibatnya, banyak petani mengalihkan lahan persawahan menjadi perkebunan lantaran krisis pengairan sawah yang tak usai.
Belum lagi persoalan lain, yang tentu saja bisa menjadi bumerang bagi pemerintah daerah lantaran ambisi menjadikan wilayahnya sebagai lumbung padi nasional tak sejurus dengan pemerataan proyek sumber daya yang turut mendukung cita-cita mulia tadi. Misalnya persoalan pupuk dan mekanisme distribusinya. Lalu ada persoalan harga jual gabah yang perlu diantisipasi pemangku kewenangan agar para pelaku persawahan tidak putar balik menjadi petani perkebunan.
Maka tak salah jika Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMN) menuding Pemkab Kerinci sengaja membangun narasi estetika pertanian secara simbolis, padahal di lapangan, ratusan hektar sawah milik petani di berbagai desa di kecamatan air hangat timur dan depati tujuh justru terancam gagal panen akibat krisis irigasi parah yang tak kunjung terselesaikan.
Karenanya, perlu ada blue print yang jelas dan tegas dari Pemda jika ambisi tadi tidak dituding hanya pencitraan belaka. (red)




